7 Hal yang Menurunkan Produktivitas Karyawan

Article

Nov 23

Hai Human Capital Pratictioner,
Menjaga performa karyawan agar terus berada di posisi puncak memang tidak mudah. Pengalaman saya selama ini menunjukan bahwa sering terjadi business owner sudah berusaha mati-matian berusaha memberi motivasi, semangat dan nasehat, beserta arahan pada karyawannya agar mereka dapat bekerja dengan lebih baik namun hasilnya masih saja di bawah harapan.

Apa masalah yang sebenarnya terjadi?

Apakah karena akibat “salah rekrut”? Atau, karyawan Anda memang tidak punya kemampuan untuk mencapai hasil kerja seperti yang Anda harapkan. Alias tidak memiliki job fits yang mencukupi namun anda tetap meng-hire mereka.
Atau, bisa jadi karyawan Anda mungkin menunjukan kinerja yang sangat memuaskan di awal-awal periode dia bergabung di perusahaan, namun ternyata tidak bertahan lama. Tiga bulan setelah bergabung, performanya mulai kendor dan tidak semangat. Hasil kerjanya hampir tidak ada atau nol besar.
Berikut satu ilustrasi dari kejadian nyata yang pernah saya alami sebagai Human Capital Coach;
Sebut saja, Anto salah seorang tenaga keamanan di perusahaan ini, dia baru bergabung sejak 2 atau 3 bulan yang lalu. Yang patut diapresiasi dari diriya adalah semangat yang konsisten dan tenaga yang tidak kenal lelah. Atasannya cukup puas dengan kinerjanya selama beberapa bulan terakhir ini.
Di awal bulan ke 4, Anto minta ijin tidak masuk kerja karena sakit. Ternyata tidak hanya di awal bulan saja, hingga akhir bulan ke 4 ini, dia sudah ijin setidaknya 4-5 kali, dengan alasan sakit. Dia juga sering datang terlambat ke kantor untuk giliran berjaga. Perilaku yang lalu tidak lagi terlihat pada diri Anto.
Setelah diusut, apa yang sebenarnya menyebakan terjadi penurunan kinerja dari Anto, ternyata akibat perselisihannya dengan rekan kerja yang lain. Karena dia menunjukan diri sebagai karyawan teladan, teman-teman yang lain iri dan mengintimidasi Anto, sehingga Anto sendiri merasa tidak nyaman lagi bekerja di perusahaan tersebut.
Dia memutuskan untuk berhenti dan mencoba bekerja di perusahaan lain.


Yuk para HC Practitioner, di bawah ini adalah beberapa kesalahan yang sering dilakukan dan menyebabkan performa karyawan Anda menurun. Mari pahami sehingga karyawan bisa produktif sepanjang tahun.

  1. Janji Muluk saat awal masuk kerja
    Sering kita dengar, karyawan yang baru masuk dijanjikan berbagai macam hal, seperti posisi atau jabatan tertentu, fasilitas kerja yang ‘wah”, potensi pendapatan yang bisa diterima, dan lain sebagainya.
    Apakah salah menjanjikan seperti itu? Tentu saja tidak, jika memang kondisi internal perusahaan sehat, mendukung semua janji-janji tersebut. Karena memang hal-hal tersebutlah yang menjadi nilai positif perusahaan kita, dibandingkan dengan kompetitor yang ada.
    Ceritanya menjadi lain, jika ternyata kemampuan perusahaan jauh dari kondisi yang dijanjikan diawal. Karyawan yang sudah terlanjur masuk seperti merasa dibohongi, yang akhirnya membuat mereka bekerja tidak optimal, karena tidak bekerja sepenuh hati.
    Jadi, mari coba mulai buat kembali standar nilai unggul perusahaan sesuai realita yang ada, untuk diinformasikan secara jelas dan detail kepada calon karyawan.

  2. Perlengkapan kerja tidak sesuai beban kerjaBayangkan!!
    “Kita merekrut seorang desainer grafis handal, dengan target setiap hari menghasilkan desain sesuai permintaan. Komputer yang dipakainya masih menggunakan CPU prosesor versi 1, padahal sekarang sudah berkembang hingga versi 5.
    Sang desainer bekerja secepat mungkin, sesuai dengan arahan desain dan dealine yang ada. Tapi ketika dia mengerjakan sebuah desain, komputernya perlu loading dan memakan waktu lebih lama, sehingga target kerjanya hari itu tidak tercapai.
    “Nah, seandaianya Anda yang menjadi sang desainer, berapa lama Anda mampu menghasilkan karya sesuai dengan target? Kecenderungan yang ada, Anda akan jenuh dan menjadi malas kerja karena menghadapi komputer yang lambat.
    Mulailah menyediakan perlengkapan kerja yang sesuai dengan beban kerja karyawan kita.Melakukan work load analysis akan cukup membantu Anda memetakan kebutuhan perusahaan. Apakah Anda atau perusahaan Anda sudah memiliki Chart Analisa Pekerjaan? Jika belum, kami berikan kepada Anda dan dapat mendownload contohnya disini.

  3. Sistematika kerja yang tidak terstruktur dengan baik
    A : “Maaf, ini bukan kerjaan saya!, coba tanya si B, mungkin dia tahu siapa yang harus mengerjakannya"
    B : “Wah, ini mah biasanya kerjaannya si C, coba kesana aja, biar dia yang ngerjain."
    C : “Lho, kok saya yang harus mengerjakanya lagi. Selama ini status saya hanya membantu si D kok.”
    D : “Sebenarnya, ini juga tidak tercantum dalam rincian pekerjaan saya.
    Selama ini saya mengerjakan hanya jika ada waktu luang, nah sekarang kerjaan saya sedang banyak banget.”
    (Silahkan teruskan cerita yang biasanya tak bekesudahan ini)
    Percakapan diatas, beberapa kali dijumpai dalam sebuah perusahaan, karena mereka belum memiliki SOP yang baku dalam melaksanakan sebuah pekerjaan.
    Ketiadaan SOP ini, seringkali membuat karyawan merasa bermain pingpong, tetapi dia yang menjadi bolanya.
    Kelelahan seperti ini, lambat namun pasti, akan membuat mental karyawan tergerus, yang akhirnya menyebabkan kinerja dan produktivitasnya menurun, bahkan bisa dengan drastis. Menyiapkan Standard Operation Procedure yang memadai, guna menunjang proses kerja seluruh karyawan yang terlibat, akan mampu meningkatkan produktivitas semua karyawan.

  4. Orang "kunci" yang cenderung "bermasalah"
    Disetiap perusahaan umumnya memiliki tipikal orang seperti ini. Berbahagialah jika di perusahaan Anda tidak ada.
    “Kunci” disini bisa bermakna, memiliki posisi atau jabatan yang cukup tinggi ataupun memiliki kedekatan dengan pimpinan perusahaan. “Bermasalah” yang paling sering dijumpai adalah sulitnya berkomunikasi dengan yang bersangkutan (bisa karena orangnya galak, pemarah, keras kepala), kurang memiliki leadership yang baik (tidak bisa mengambil keputusan secara tepat dan cepat, tidak mampu menegur bawahan yang salah, dan lainnya), dan masih banyak masalah lainnya.
    Ketika Anda berada pada posisi yang mengharuskan untuk berhubungan dengan orang tipikal seperti ini, maka mulai muncul rasa enggan, berusaha melakukan seminimal mungkin untuk kontak dengannya. Ke-enggan-an inilah yang akhirnya membuat seorang karyawan menjadi nampak kurang produktif dalam bekerja.
    Membentuk Corporate Culture (budaya perusahaan) yang baik, sehingga setiap karyawan memiliki kompetensi diri yang sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan organisasi, akan sangat mendukung jalannya operasional perusahaan.

  5. Tidak adilnya sistem kompensasi dan tunjangan
    Kompensasi (gaji) selalu menjadi masalah klasik. Demikian juga tunjangan yang tidak seragam atau tidak proporsional bagi karyawan. Orang dengan posisi yang lebih tinggi atau beban kerja yang lebih banyak, mendapatkan kompensasi yang lebih rendah, dibandingkan dengan karyawan yang memiliki posisi lebih rendah atau beban kerja yang lebih ringan.
    Karyawan yang merasa harusnya menerima lebih banyak, dan kenyataannya tidak demikian, lama-kelamaan akan merasa kontribusinya selama ini kurang dihargai. Jika sudah begini mulai muncul pemikiran, buat apa punya jabatan tinggi, lebih baik jabatan rendah atau biasa saja, toh terimanya akan lebih baik. Beban kerja juga sedemikian tingginya, tapi yang kerjanya cenderung santai, malah mendapat sama bahkan lebih tinggi.
    Ketika Anda coba mulai melihat sistem yang ada saat ini, mungkin perlu dilakukan evaluasi. Ada baiknya mulai menyusun skema Compensation & Benefit Management yang lebih terstruktur
  6. Lingkungan kerja yang tidak memadai
    Pernah bertamu ke kantor yang berantakan?
    Mungkin mulai dari tempat parkir kendaraan yang semrawut, banyak barang berserakan tidak pada tempatnya, suasananya panas dan tidak ada alat mengatur suhu ruang, mau duduk bingung karena banya kursi yang rusak, dan lain sebagainya.
    Jika Anda sebagai tamu saja tidak nyaman dengan kondisi itu, patut diduga bahwa sebagian besar karyawan mulai dari tempat parkir yang tidak aman, dapat membuat karyawan menjadi tidak fokus bekerja, karena memikirkan kendaraan yang dibawanya saat kerja, apakah masih ada saat dia pulang? Sudah tentu hal semacam ini mengurangi produktivitas kerja karyawan, karena tidak konsentrasi penuh ke pekerjaan yang sedang dijalankan.
    Mencoba memulai menata lingkungan kerja yang ada, misalnya melakukan prinsip 5S/5R di tempat kerja, akan membuat lingkungan aman, dan kerjapun nyaman.
  7. Permasalahan personal yang tidak teratasi
    Setiap karyawan pasti memiliki kehidupan pribadi di luar urusan pekerjaannya. Termasuk dengan segala dinamika permasalahannya, misalnya berantem dengan pacar, konflik dengan keluarga, kesulitan ekonomi, tuntutan pribadi yang tidak terpenuhi oleh manajemen kantor, dan lain sebagainya.
    Disaat kondisi perusahaan mengharuskan setiap karyawan fokus ke pekerjaannya, tetapi si karyawan sibuk dengan masalah personalnya tersebut, kinerja tim secara keseluruhan akan terganggu. Secara etika, personil HC atau atasan di perusahaan memang tidak bisa masuk ke wilayah ini, karena cenderung bersifat pribadi.
    Manakala kondisi yang ada mempengaruhi kinerja karyawan, atasan atau HC personil dapat memanggilnya untuk dilakukan Coaching & Counseling. Ini akan membantu mengarahkan kembali fokus yang bersangkutan kepada pekerjaannya selama di kantor.
    Kami biasa berbagi cara mudah untuk melakukan coaching dan counseling ini dalam kelas Strategic Assessment and Development Management disini.

Semua perusahaan ingin memiliki karyawan yang produktif, sehingga dilakukanlah beberapa tahap proses seleksi untuk menyaring para kandidat. Ketika calon karyawan terpilih menjadi karyawan, pastinya perusahaan melihat beberapa nilai positif yang mendukung kinerjany

Akses Video Series Rahasia Sukses Perusahaan Hebat Dunia. GRATIS!!